Benarkah Menatap Layar Gadget Tidak Berbahaya Bagi Anak

Benarkah Menatap Layar Gadget Tidak Berbahaya Bagi Anak

Dewasa ini, memberikan anak-anak smartphone atau gadget lain saat para orang tua mengobrol agar sang anak tetap kalem bukan jadi hal yang aneh lagi.

Setelah fenomena ini berlangsung, ada beberapa sugesti yang menyebutkan screen time, atau waktu dimana seseorang menatap layar gadget entah untuk bermain atau menonton, berpengaruh buruk terhadap otak anak, hingga bisa merubah struktur otaknya.

Namun ternyata, sugesti itu tidak sepenuhnya benar.

Studi teranyar dari Universitas Oxford yang dipublikasikan di Nature Human Behaviour menyebutkan, screen time untuk anak tidak berbahaya, dan hampir tidak ada efek psikologisnya bagi kesehatan si kecil.

Kemudian, penelitian Lydia Denworth yang dipublikasikan di Scientific American mencatat, teknologi tidak berpengaruh buruk pada kondisi emosional anak.

Apakah anak menjadi lebih depresi, punya keinginan bunuh diri, lebih terisolasi, jawabannya ternyata tidak. Jadi, para orang tua tidak perlu khawatir anak akan menjadi 'beringas' karena smartphone.

Meski begitu, orang tua tetap tidak boleh begitu saja memberikan screen time pada anak.

Meski tidak memberikan dampak buruk, itu hanya akan terjadi jika orang tua memberi porsi screen time yang pas. Lain halnya jika sang anak sudah kecanduan, maka kejadian mengerikan yang tidak terbayang bisa saja terjadi.

Untungnya, beberapa agensi teknologi raksasa seperti Apple dan Google telah memikirkan hal ini jauh-jauh hari. Mereka membenamkan fitur yang membantu para orang tua mengontrol kapan sang anak harus bermain smartphone dan kapan ia harus berhenti..

Aplikasi ini, memang berfungsi membantu orang tua untuk memonitor screen time alias jumlah berapa banyak waktu anak yang dihabiskan saat memegang iPhone.

Karena kritikan semakin banyak, Apple pun buka suara dan menyatakan alasan mengapa mereka mencabut aplikasi-aplikasi tersebut.

"Kami selalu percaya kalau orang tua memiliki alat khusus untuk mengatur pemakaian perangkat anak-anaknya. Namun, beberapa alat ini malah berpotensi mengekspos riwayat browsing pengguna, lokasi, dan akun email ke pihak ketiga," ujar perusahaan asal Cupertino, Amerika Serikat (AS) ini.

"Dari tahun lalu, kami sadar kalau beberapa aplikasi parental control menggunakan teknologi canggih bernama Mobile Device Management atau MDM," jelas Apple.

"MDM memberikan kontrol pihak ketiga dan akses kepada perangkat dan informasi sensitif seperti lokasi, penggunaan aplikasi, akun email, izin pemakaian kamera, dan riwayat browsing," lanjutnya.

MDM Melanggar Kebijakan

Pada awal 2017, Apple sendiri sempat mengecek pemakaian MDM bagi pengembang non-enterprise. Tak lama setelahnya, perusahaan memperbarui guideline berdasarkan dari updateyang mereka terima.

Apple berpendapat, meski MDM memiliki pemakaian yang sah--seperti kontrol lebih baik pada perangkat dan data hak milik--ternyata MDM masih tetap berisiko dan tetap melanggar kebijakan App Store dalam hal privasi pengguna.

Saat Apple tahu dengan pelanggaran guideline tersebut, mereka langsung mengumumkan kepada para pengembang aplikasi dan memberikan waktu 30 hari untuk segera mengirim update baru aplikasi agar tidak dicabut dari App Store.

Beberapa pengembang merilis update untuk memastikan aplikasi mereka mengikuti kebijakan yang sudah ditentukan. Namun sisanya dicabut karena tidak mengikuti ketentuan.

"Kami menciptakan App Store untuk menyediakan toko aplikasi yang aman, di mana pengembang dan entrepreneur bisa membawa ide ke pengguna seluruh dunia, dan pengguna bisa memakai aplikasi dengan aman mengikuti standar dan tanggung jawab perusahaan," tutur Apple.

"Kami berkomitmen untuk menyediakan tempat bagi aplikasi-aplikasi ini agar mereka juga bisa improve bagi pengalaman pengguna untuk semuanya," tutup perusahaan.

0 comments:

Post a Comment